
Dolar mencapai level tertinggi dua minggu pada hari Rabu saat investor beralih ke mata uang AS di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai dampak ekonomi dari guncangan energi dan mempertimbangkan perbedaan arah kebijakan moneter di berbagai negara ekonomi utama. AS dan Iran kembali berada dalam situasi siaga perang pada hari Rabu setelah terjadinya aksi saling serang paling signifikan dalam beberapa minggu.
Greenback cenderung diuntungkan oleh kenaikan harga minyak karena perekonomian AS tidak terlalu rentan terhadap guncangan energi dibandingkan banyak negara ekonomi utama lainnya, menarik permintaan dengan mengorbankan mata uang seperti euro dan yen. Sementara sebagian besar ekonom memperkirakan European Central Bank akan segera mengakhiri siklus pengetatan kebijakan setelah kenaikan suku bunga yang sangat dinantikan pekan depan, Federal Reserve justru menghadapi risiko yang kian besar untuk harus memperketat kebijakan pada tahun 2027.
Namun, aksi jual Treasuries yang dipicu oleh kekhawatiran mengenai inflasi dan arah kebijakan fiskal negara tersebut dapat menekan dolar, karena peningkatan tingkat utang dan tekanan harga yang terus-menerus menimbulkan keraguan terhadap daya tarik aset AS dalam jangka panjang. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang termasuk yen dan euro, naik 0,11% menjadi 99,76 setelah sempat menyentuh 99,808, level tertinggi sejak 17 Agustus. Euro turun 0,16% ke posisi $1,1575 setelah sempat menyentuh $1,1570, level terendah sejak 20 Agustus.
Imbal hasil tenor 10 tahun sempat melonjak hingga 4,812%, level terkuat sejak November 2023, sebelum turun kembali ke 4,804%. Imbal hasil obligasi acuan Jepang tenor 10 tahun memperpanjang reli ke 3,01% pada hari Rabu, setelah smenyentuh angka 3% pada hari Selasa pencapaian dalam tiga dekade. Pasar kini memperhitungkan adanya peluang sebesar 70% untuk kenaikan Fed pada bulan September, naik dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Yen Jepang naik 0,45% terhadap greenback ke 159,50 per dolar, setelah sempat melemah ke level terendah sejak 31 Juli. Itu berada tepat di atas ambang batas psikologis penting 160 per dolar karena pasar mempertimbangkan jalur suku bunga Bank of Japan. Gubernur BoJ Kazuo Ueda menyatakan bahwa kenaikan suku bunga secara berturut-turut mungkin saja dilakukan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan dukungan kuat terhadap langkah-langkah moneter yang "tegas" untuk mengatasi pelemahan yen dalam pertemuan dengan Gubernur BoJ Kazuo Ueda, Departemen Keuangan AS mengatakan. Intervensi gabungan yang jarang terjadi antara AS dan Jepang pada akhir Juli sempat memberikan kelegaan sesaat bagi yen yang rapuh, mengangkatnya dari level terendah 40 tahun di 163,99, namun, sejak saat itu, mata uang tersebut telah kehilangan sekitar separuh dari kenaikan yang diperoleh akibat tindakan bersama tersebut.
Dolar Selandia Baru merosot 1,01% terhadap dolar AS ke level $0,5844, level terendah sejak 13 Agustus, meskipun bank sentral negara tersebut telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%. Para analis menyebutkan bahwa pelaku pasar menilai keputusan tersebut kurang hawkish dibandingkan perkiraan sebelumnya.(Reuters, Yahoo Finance)