
Harga minyak turun pada hari Senin setelah pekan lalu melonjak ke dekat level tertinggi enam bulan, di tengah harapan meredanya permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun serangan yang terus berlanjut terhadap produsen utama, Arab Saudi menjaga investor tetap waspada. Minyak mentah West Texas Intermediate berjangka AS turun $2,23, atau 2,16%, di $101,04 per barel pada pukul 04:26 GMT. Minyak mentah Brent berjangka turun $2,21, atau 1,89%, di $114,51.
Pada hari Jumat, harga ditutup hampir $3 lebih tinggi setelah serangan Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran pasokan energi. Brent mengakhiri minggu 6% dan WTI berakhir 2,3% lebih tinggi. Pada hari Minggu, mediator dari Qatar bertolak ke Teheran sebagai bagian dari upaya de-eskalasi ketegangan regional berkoordinasi dengan Amerika Serikat, kata seorang pejabat yang mengetahui situasi tersebut.
Meskipun ada pembicaraan mediasi, serangan berlanjut selama akhir pekan dengan Houthi yang didukung Iran mengatakan bahwa mereka menyerang sebuah bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi pada hari Sabtu. Pada hari Minggu, Arab Saudi menyatakan telah berhasil mencegat lebih banyak rudal dan drone. Dampak dari perang antara AS-Israel dan Iran, yang dimulai pada 28 Februari terus terasa karena upaya berbagai perusahaan untuk menyesuaikan diri terhadap gangguan pelayaran komersial di jalur penting Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang disebabkan konflik tersebut.
Pada hari Senin, menteri energi dari Arab Saudi dan Singapura mengatakan bahwa perusahaan minyak milik negara Saudi Aramco akan mulai menyimpan minyak mentah di Singapura mulai paruh kedua tahun 2027, untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan Aramco di kawasan tersebut. Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, turut menyoroti kekhawatiran mengenai pasokan, mengatakan pada hari Senin di acara industri di Singapura bahwa ia tidak memperkirakan pasar energi pada tahun 2027 untuk kembali ke kondisi seperti sebelum perang Iran.(Reuters, Live Science)