
Harga emas bertahan di dekat level tertinggi lebih dari dua bulan pada hari Kamis, didukung oleh imbal hasil Treasury AS yang lebih rendah setelah pemerintah mengumumkan program pembelian kembali utang jangka panjang yang lebih besar. Dolar yang lebih lemah dan ekspektasi kondisi finansial yang lebih longgar juga menjaga dukungan pada emas batangan, meskipun investor tetap waspada terhadap sikap inflasi Federal Reserve yang masih hawkish.
Pada pukul 22:37 ET (02:27 GMT), harga emas turun 0,7% menjadi $4.491,35 per ons, setelah menyentuh level tertinggi intraday di $4.527,67. Emas Berjangka sedikit naik 0,1% menjadi $4.548,51. Harga perak sedikit berubah di $66,99 per ons, sementara harga platinum turun 1,1% menjadi $1.801,42. Indeks Dolar AS naik 0,1% di 98,84. Pergerakan emas terakhir menyusul pengumuman yang mengejutkan dari Departemen Keuangan AS yang akan menggandakan operasi dukungan likuiditas yang berkaitan dengan utang jangka Panjang pemerintah.
Peningkatan permintaan membantu mendorong imbal hasil Treasury lebih rendah, memberikan kenaikan baru emas batangan setelah harga melonjak lebih dari 4% pada hari Rabu. Hubungan ini penting karena emas tidak memberikan bunga. Ketika imbal hasil Treasury naik, obligasi menawarkan kepada investor aliran pendapatan yang lebih menarik dibandingkan dengan memegang emas batangan. Ketika imbal hasil turun, biaya peluang turun, membuat emas relatif lebih menarik.
Dolar tetap melemah, dimana dukungan lebih jauh untuk logam yang dihargakan dengan dolar dengan membuatnya lebih murah untuk pembeli di luar negeri. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keuangan pemerintah AS. Total utang pemerintah AS telah melampaui $40 triliun untuk pertama kalinya, menurut Departemen Keuangan, memicu peringatan bahwa posisi keuangan negara dapat menjadi lebih sukar untuk dikendalikan karena belanja untuk program sosial dan biaya bunga melampaui pendapatan, termasuk setelah pemotongan pajak.
Imbal hasil yang lebih rendah memberikan dukungan, tapi risalah pertemuan terakhir Federal Reserve menunjukkan bahwa inflasi tetap menjadi kendala signifikan bagi pembuat kebijakan. Risalah dari pertemuan bulan Juli menunjukkan bahwa pejabat Fed bersiap untuk menaikkan suku bunga, sementara banyak yang mengatakan kenaikan diperlukan jika inflasi gagal turun menuju target 2% bank sentral.
Pasar menilai probabalitas 67,3% bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan bulan September, berbanding dengan 32,7% peluang kenaikan suku bunga, menurut CME FedWatch. Keseimbangan kebijakan penting untuk emas. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membebani logam karena meningkatkan pendapatan investor dari aset yang menghasilkan bunga, sementara lingkungan kebijakan akomodatif cenderung mengurangi kerugian tersebut. Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi juga mendukung permintaan jangka panjang.
Survei World Gold Council menunjukkan bahwa 45% bank sentral berencana untuk meningkatkan cadangan emas mereka, menyatakan meningkatnya inflasi dan ketidakpastian geopolitik sebagai alasan utama.(Investing, News Arena)