
Dolar bertahan di dekat level tertinggi dalam satu pekan dan yen turun untuk hari kedua pada awal perdagangan Asia hari Jumat karena kekhawatiran baru mengenai gangguan pasokan energi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, diperdagangkan di 99,081, bertahan stabil setelah menguat 0,3% pada hari Kamis untuk mencapai level tertinggi sejak 7 September.
Kenaikan menyusul rilis data yang menunjukkan harga produsen AS naik 0,4% pada bulan Agustus, sesuai dengan ekspektasi pasar karena harga energi rebound pada bulan tersebut. Harga energi memperpanjang kenaikan sampai hari keenam, minyak mentah Brent berjangka naik 1,2% menjadi $108,96 per barel ketika perdagangan kembali berlanjut di Asia.
Kedua acuan utama telah menembus $100 awal pekan ini, dengan WTI berjangka melonjak melampaui ambang batas pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak 21 Mei setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran merebut kendali atas kota pelabuhan Mocha di Yaman dan bergerak maju menyusuri pesisir Laut Merah menuju pulau-pulau strategis.
Terhadap yen, dolar AS menguat sebesar 0,1% menguat ke 154,615 yen, sementara euro menguat dalam kisaran serupa mencapai 179,49 yen setelah European Central Bank menaikkan suku bunga pada hari Kamis untuk kedua kalinya tahun ini. Tapi mata uang Jepang sempat kembali menguat setelah data yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan inflasi grosir naik 7,6% pada bulan Agustus dari tahun sebelumnya, memperkuat argumen bagi kenaikan suku bunga bulan ini.
Dolar Australia datar di $0,7160, rekannya kiwi naik 0,1% menjadi $0,5805. Euro dan pound Inggris baerada di level yang sama terhadap dolar di $1,1613 dan $1,3510, masing-masing. Pasar kini menantikan rilis data IHK AS kemudian pada hari Jumat, salah satu data ekonomi utama terakhir yang akan dirilis sebelum pertemuan Federal Reserve pekan depan.
Dana Fed berjangka memperhitungkankan probabilitas sebesar 71,3% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan dua hari bank sentral AS berikutnya yang berakhir pada 16 September, dibandingkan peluang 61,2% pada sesi perdagangan sebelumnya, menurut alat FedWatch milik CME Group.
Pasar pendapatan tetap masih tetap khawatir setelah Departemen Keuangan AS melipatgandakan volume pembelian kembali obligasi tenor panjang, dengan indikator volatilitas obligasi melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2,3 basis poin menjadi 4,965%.(Reuters, CNBC)