Menelusuri Rekam Jejak Rupiah Yang Mencapai 14.000 Terhadap Dolar.

Oleh: Abdul Hadi Date: 18 May 2018

Minggu lalu terjadi kehebohan berita tentang perekonomian Indonesia yang sempat viral ke pelbagai media cetak maupun online, baik itu portal berita yang khusus ekonomi maupun yang umum. Berita tentang apa itu? Ya, benar jika Anda menebak tentang melemahnya Rupiah terhadap Dollar Amerika (USD). Tepatnya pada Selasa (8/5/2018) mata uang negeri kita tercinta ini (walaupun banyak drama dan konflik politik, tapi saya yakin sebagian besar masih cinta Indonesia) tembus di atas 14.000. Apa yang terjadi dengan mata uang Garuda, sehingga bisa menyentuh level psikologisnya, ini yang timbul pertanyaan dari salah satu pembaca setia Insight. Oleh karena itu, Insight yang biasanya membahas kondisi perekonomian global kali ini spesial mengupas kehebohan berita dalam negerinya, lebih spesifiknnya tentang melemahnya Rupiah. Bukan hanya dari segi kenapa dan mengapa Rupiah bisa melemah, tapi akan dibahas lebih detail, dari mulai perjalanan Rupiah dari 2000 ke 14.000, hingga langkah apa yang seharusnya Anda ambil, dalam menyikapi fenomena ini.


Perjalanan Rupiah dari 2000-14000

Rasanya terlalu mainstream jika langsung menjabarkan alasan kenapa Rupiah melemah. Maka dari itu kita mulai dari rekam jejak Rupiah terhadap Dollar dari 2.000- 14.000.


- Era Orde Baru

25 Tahun lalu pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000, dengan titik terendahnya di Rp 1.977 per dolar AS pada tahun 1991. Ini terjadi karena pada jaman tersebut pemerintah yang berkuasa belum menganut rezim kurs mengambang, dan mereka tidak mau tahu  dolar AS harus bertahan di level itu.


- Era Krisis Moneter (Krismon)

Indonesia mulai meninggalkan sistem kurs terkendali, akibatnya cadangan devisa Indonesia rontok karena terus-terusan menjaga dolar AS bisa bertahan di Rp 2.000-2.500. Dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998. Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998.


- Memasuki Periode Kelam Mei 1998


Pada mei 1998 Indonesia memasuki masa yang kelam, banyak terjadi kerusuhan dan tragedi yang meruntuhkan perekonomian Indonesia, kemudian hal itu berdampak pada Rupiah yang menyentuh level tertingginya Rp. 16.500. - Era Reformasi Rupiah Kembali Menguat.


Pasca Orde Baru, Indonesia mengalami masa reformasi. Kepercayaan investor pun sedikit demi sedikit kembali, dan Rupiah mulai menguat kembali. Dolar AS terus melemah, dan mencapai Rp 8.000 pada Oktober 1998.


- Krisis finansial global di 2007


Akibat krisis subprime mortgage di AS, nilai tukar Rupiah sudah berada di kisaran Rp 9.000-10.000. Pelemahan Rupiah justru terjadi setelah krisis finansial berakhir dan mata uang negara-negara barat mulai pulih. Sekitar tahun 2009, dolar AS sudah berada di di kisaran Rp 11.800 hingga di atas Rp 12.000.


- Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2010-2012


Berkat pertumbuhan ekonomi RI yang kuat di 2010-2012, Rupiah bisa kembali perkasa. Dolar AS pun sempat turun hingga ke Rp 8.500.


- Masa Ketika BBM di Subsidi


Indonesia yang ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) harus mengimpor dalam jumlah banyak tiap tahun. Pemerintah juga terus memberi subsidi kepada masyarakat sehingga konsumsi BBM tetap tinggi.Tingginya impor ini memicu neraca perdagangan RI jadi defisit. Akibatnya secara perlahan dolar AS terus menanjak sampai menembus kisaran Rp 12.000 lagi.


- Ketika Dollar Menunjukkan Penguatan Secara Global


Nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS mulai merangkak di atas Rp 13.500, dari Rp 13.600 hingga Rp 13.700, pada akhir Februari dan awal Maret. Pertama kali Rupiah menyentuh level Rp 13.600 tepatnya tanggal 8 Februari 2018, di mana setelah itu sempat turun ke level Rp 13.500 namun bertahap naik ke Rp 13.700 sampai Rp 13.800 pada akhir April. Selepas bulan April dan memasuki Mei, Rupiah ada di posisi Rp 13.800-13.900 kemudian pada Selasa (8/5/2018) tembus ke angka Rp 14.036 dan naik tipis jadi Rp 14.074 pada Rabu (9/5/2018).                                             


Apa Penyebab Dolar Digdaya Terhadap Rupiah.

Setelah kita telusuri rekam jejak Rupiah terhadap Dolar, dari mulai Rp.2000 hingga Rp. 14.000. Mari kita lihat penyebab melemahnya Rupiah terhadap Dolar.


Faktor Penyebab Rupiah Bercokol di Rp.14000 Terhadap Dolar

Internal

Eksternal

Dana asing terus keluar (capital outflow) dari pasar obligasi dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Rencana The Federal Reserve untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan.

Masa pembayaran dividen serta pembayaran utang luar negeri yang beberapa di antaranya jatuh pada awal kuartal II 2018.

Penguatan mata uang Dolar, terkait imbal hasil Obligasi AS tenor 10 Tahun naik 8.9 basis poin.

Inflasi serta efek Bank Indonesia yang lambat merespons kenaikan suku bunga acuan

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memangkas pajak korporasi.

Perekonomian Indonesia yang tumbuh di luar target pada kuartal I tahun ini. BPS melaporkan ekonomi nasional hanya tumbuh 5,06 persen dari target 5,2 persen.



European Central Bank (ECB) yang akan menaikkan suku bunga acuan tahun depan.




Dari faktor-faktor tesebut, yang menjadi pemicu utamanya adalah kabar dari Amerika Serikat (AS) yang melalui bank sentralnya yaitu The Fed, akan menaikkan tingkat suku bunga acuan. Memicu para investor berburu Dolar,dan melemahkan sebagian besar mata uang lainnya terhadap Dolar, termasuk Rupiah yang ikut menjadi korban.


Apa Langkah Para Pembuat Kebijakan Ekonomi Indonesia?


Dengan kondisi Dolar AS  sudah menguat sebanyak 7,7% sejak awal tahun 2018. Para investor mengharapkan pembuat kebijakan mengambil langkah-langkah yang nyata unutk meredam laju penguatan Dolar AS terhadap Rupiah. Berikut komentar para pembuat kebijakan tersebut, dalam hal langkah yang akan diambilnya.


- Komentar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani


Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, di tengah situasi pelemahan Rupiah yang terus terjadi, pemerintah bersama Bank Indonesia akan berupaya menjaga kondisi ekonomi dalam keadaan stabil.


"Kita akan terus bersama sama Bank Indonesia dan seluruh kementerian akan menjaga kinerja dan fondasi Indonesia," ujar Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin malam (7/5/2018).


"Maka dalam situasi seperti ini kita akan terus menjaga perekonomian Indonesia, fondasi kita perkuat kinerja kita perbaiki sehingga apa yang disebut sentimen market itu relatif bisa netral terhadap Indonesia," dia menambahkan.


- Komentar Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo


Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, BI terus menempuh langkah-langkah untuk membuat Rupiah tetap stabil. Di antaranya, intervensi di pasar valuta asing secara terukur, stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan Rupiah.


Termasuk, kata dia, membuka lelang forex swap untuk menjaga ketersediaan likuiditas Rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar uang untuk memastikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah terkelola dengan baik.


"Bank Indonesia juga tengah mempersiapkan langkah kebijakan moneter yang tegas dan akan dilakukan secara konsisten, termasuk melalui penyesuaian suku bunga kebijakan 7-day reverse repo rate dengan lebih meprioritaskan pada stabilisasi, untuk memastikan keyakinan pasar dan kestabilan makro ekonomi nasional tetap terjaga," kata Agus dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Rabu (9/5/2018).


Apa Langkah Anda Dalam Merespon Berita Tersebut?

Memang trading forex lebih condong melihat pergerakan mata uang asing, namun mungkin ini bisa menghilangkan rasa penasaran Anda, tentang melemahnya Rupiah yang selama minggu lalu menjadi pusat perhatian “Viral” pelaku pasar lokal. Ini juga bisa menjadi momen Anda untuk mengumpulkan pundi-pundi keuntungan melalui trading forex. Tetapi pastinya dengan langkah-langkah yang tepat, agar faktor fundamental seperti ini justru memudahkan Anda meraih profit layaknya ONICS Trading.



Sumber : detikfinance.kompas.merdeka.com.